• Table of Contents

  • Join 5 other followers

  • Sponsor

    Free Domain Name .co.nr

    Hosting Gratis

    Web hosting

    WordLinx - Get Paid To Click

  • Statistik Blog

    • 11,073 hits

Makmum Tidak Wajib Baca Al-Fatihah


Makmum memiliki kewajiban untuk mengikuti imam dengan dalil :
إنما جعل الإمام ليؤتم به فإذا كبر فكبروا وإذا قرأ فأنصتوا
( ح.ر. أحمد )

” Diadakan imam itu , hanya buat diikuti, maka apabila ia bertakbir, hendaklah kamu bertakbir, dan apabila ia baca , hendaklah kamu diam “. ( H.R. Ahmad )
Didalam hadits tersebut, nyatalah bahwa ketika imam sedang membaca, makmum diperintah untuk diam. Hal ini telah jelas dinyatakan dalam Al-Qur’an :

وإذا قرئ القران فاستمعوا له وأنصتوا لعلكم ترحمون.
( الأعراف : 204 )

” Dan apabila Al-Qur’an itu dibaca , hendaklah kamu dengar dan diam, supaya kamu diberi rahmat. ( Q.S. Al-A’raf : 204 ).

Berikut ini saya sertakan dalil – dalil dari sunnah yang menjelaskan hal diatas :

قال أبو هريرة : أنصرف رسول الله صلى الله عليه وسلم من صلاة جهر فيها بالقراءة فقال : هل قرأ معي أحد منكم انفا ؟ فقال رجل : نعم يا رسول الله , قال : فإني أقول مالي أنازَع القرانَ ؟ قال أبو هريرة : فانتهى الناس عن القراءة مع رسول الله فيما يجهر فيه رسول الله صلى الله عليه وسلم من الصلوات بالقراءة حين سمعوا ذلك من رسول الله صلى الله عليه وسلم.
( ح.ر. مالك والشافعي وأحمد )

Abu Hurairah berkata : Sesudah Rasulullah selesai dari satu shalat yang beliau membaca dengan nyaring lalu beliau bersabda : Adakah diantara kamu yang membaca bersamaku tadi ?. Seseorang menjawab : Ya Rasulullah. Maka Rasulullah bersabda : Aku mau bertanya : Mengapa aku dilawan dengan membaca Al-Qur’an ?. Abu Hurairah berkata : Sesudah itu, berhentilah orang – orang daripada membaca bersama Rasulullah di shalat yang Rasulullah membaca dengan nyaring, diwaktu mereka mendengar yang demikian itu dari Rasulullah. ( H.H.R. Malik, Syafi’i dan Ahmad ).

إذا أسررت بقراءتي فاقرءوا وإذا جهرت بقراءتي فلا يقرأْ معي أحد.

( ح.ح.ر. الدارقطني )

Apabila aku tidak menyaringkan bacaanku, hendaklah kamu membaca, dan apabila aku menyaringkan bacaanku, maka janganlah seorangpun membaca bersamaku.

( H.H.R. Daruquthni )

قال جابر : من صلى ركعة لم يقرأ فيها بأم القران فلم يصل إلا وراء الإمام.

( ح.ص.ر. مالك والتركذي )

Jabir berkata : Barang siapa shalat satu raka’at dengan tidak membaca Al-Fatihah didalamnya, maka dia belum shalat, kecuali dibelakang imam.

( H.S.R. Malik dan Tirmidzi )

Berikut ini keterangan dari imam Ahmad dan riwayat imam Baihaqi dari Abi Wail :

قال أحمد : ما سمعنا أحدا من أهل الإسلام يقول : إن الإمام إذا جهر بالقراءة لا تجزئ صلاة من خلفه إذا لم يقرأ. وقال : هذا النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه والتابعون وهذا مالك في أهل الحجاز , وهذا الثوري في أهل العراق, وهذا الأوزاعي في أهل الشام , وهذا الليث في أهل مصر ما قالوا لرجل صلى وقرأ إمامه ولم يقرأ هو صلاته باطلة.

Imam Ahmad berkata : Kami tidak pernah mendengar dari seorangpun dari ahli islam yang mengatakan : Bahwa imam itu, apabila membaca dengan nyaring, tidak sah shalat orang yang dibelakangnya, kalau ia tidak membaca. Dan ia berkata : Itu Nabi , Shahabat, Thabi’in, Malik di Hijaz, Tsauri di Iraq, Auza’i di Syam, Laits di Mesir, tidaklah mereka berkata : batal shalat seorang yang shalat dengan tidak membaca, padahal imamnya membaca.

روى البيهقي عن أبي وائل : أن رجلا سأل ابن مسعود عن القراءة خلف الإمام فقال : أنصت للقران فإن في الصلام لشغلا وسيكفيك ذلك الإمام.

Baihaqi meriwayatkan dari Abi Wail : Sesungguhnya seorang laki – laki pernah bertanya kepada Ibnu Mas’ud tentang membaca dibelakang imam, maka ia menjawab : Diamlah untuk ( mendengarkan ) Al-Qur’an , karena didalam shalat ada urusan : dan ( bacaan ) itu, akan dikerjakan oleh imam untukmu.

Didalam tafsir Ibnu Jarir terdapat penjelasan sebagai berikut :

وهذه الاية تتناول كلَّ من قُرئ عليه القران أن يستمع له وينصت . والدليل على ذلك ما رُوي عن بشير بن جابر أنه قال : صلى ابن مسعود فسمع ناسا يقرؤون مع الإمام. فلما انصرف قال : أما ان لكم أن تفقهوا ؟ أما ان لكم أن تعقلوا ؟ وإذا قرئ القران فاستمعوا له وأنصتوا كما أمركم الله .

Dan ayat ini ( ayat 204 dari surat Al-A’raf ) adalah mencakup siapa saja yang dibacakan atasnya Al-Qur’an , maka wajib atasnya untuk mendengar dan diam, dengan dalil yang diriwayatkan dari Basyir Bin Jabir bahwasanya dia berkata : Ibnu Mas’ud pernah shalat, lau ia mendengar orang – orang membaca bersama imam. Sesudah selesai ia berkata : Belumkah cukup tempoh buat kamu paham ? Belumkah cukup tempoh buat kamu mengerti ?. Apabila dibaca Al-Qur’an , hendaklah kamu mendengarnya dan diam.

Sebenarnya dalam masalah ini telah terjadi perbedaan pendapat, akan tetapi saya condong dengan pendapat diatas karena :

1. Dalil dari Al-Qur’an jelas.

2. Dalil dari hadits jelas

dan kalau kita timbang dengan pikiran pula, niscaya kita dapat pemandangan yang lebih yakin lagi, yaitu :

1. Diwaktu imam membaca Al-Fatihah dengan nyaring, kalau makmum membaca juga Al-Fatihah, tentu tidak ada manfaat dari bacaan imam yang nyaring itu, karena tidak ada orang yang mendengarkannya.

2. Diwaktu imam membaca Al-Fatihah , kalau makmum mendengar saja, dan diwaktu imam membaca surah dengan nyaring, makmum membaca Al-Fatihah, juga tidak berguna bacaan imam yang nyaring itu, karena makmum yang mestinya mendengarkannya, lalai dengan membaca Al-Fatihah.

والله أعلم بالصواب

Semoga tulisan ini bermanfaat.

2 Responses

  1. makasih banyak penjelasan shalat jamaahnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: