• Table of Contents

  • Join 5 other followers

  • Sponsor

    Free Domain Name .co.nr

    Hosting Gratis

    Web hosting

    WordLinx - Get Paid To Click

  • Statistik Blog

    • 11,073 hits

KHASIAT AL-BARRA’


Keyakinan akan kebenaran aqidah tauhid tidaklah sempurna dengan hanya loyalitas kepada ahli tauhid saja tanpa dibarengi dengan sikap al-barra’ ( benci dan berlepas diri ) dari ahli syirik. Dalam surat Al-Mumtahanah ayat 4, dijelaskan oleh Al’Allamah Syaikh Abdurrahman bin Natsir As-Sa’di bahwa Nabi Ibrahim dan yang beserta dengannya dari orang – orang mu’min mengadakan permusuhan dengan kaumnya yang masih musyrik dengan permusuhan yang tidak ada batasan akhirnya sampai mereka beriman kepada Allah Yang Esa. Ibnu Katsir juga menerangakan dalam tafsirnya, bahwa permusuhan dan kebencian antara Nabi Ibrahim beserta orang – orang beriman terhadap orang – orang musyrik akan terus berlanjut sampai mereka bertauhid.
Banyak orang islam yang tidak paham akan kewijaban al-barra’ terhadap ahli syirik. Dan yang sangat disayangkan, banyak pula para da’i yang tidak menggubris akan al-barra’ ini dengan alasan – alasan yang tidak syar’i , sampai – sampai ada orang yang berkecimpung di bidang keilmuan dan dakwah pernah berkata dalam siaran radio tentang orang – orang Nashrani dengan kata – kata : ” Sesungghnya mereka adalah ikhwan kita “. Seseorang yang tidak memiliki al-barra’ ini, maka menunjukkan ketidak pahaman dia terhadap tauhid yang Rasulullah ajarkan kepada para shahabatnya. Kalau sekiranya seseorang yang paham tapi tidak punya al-barra’ pada dirinya terhadap ahli syirik, maka pemahaman seperti ini tidaklah memberi manfaat sedikitpun padanya. Hal ini karena islam menuntut pada pemeluknya agar disamping berilmu dan juga beramal. Orang yang berilmu tapi tidak mengamalkannya bagaikan ORANG YAHUDI yang membelakangi kebenaran. Begitu juga orang yang beramal tapi tidak berilmu bagaikan ORANG NASHRANI yang tidak berilmu dalam perbuatannya.
Dalam surat Al-Mujadalah ayat 22, Sa’id bin Abdul Aziz dalam tafsir Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Abu Ubaidah Amir Bin Abdullah Bin Jarrah yang telah membunuh bapaknya ketika perang badar, hingga Umar bin Khattab ketika diadakan rapat tentang siapa yang akan menggantikannya setelahnya; Umar berkata : ” Kalau seandainya Abu Ubaidah masih hidup, sungguh akan saya jadikan dia penerusku “.Ini menunjukkan bahwa seorang mu’min harus benci terhadap musyrik meskipun dia adalah bapaknya seperti halnya Abu Ubaidah terhadap bapaknya.
Syaikh Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan berkenaan dengan Q.S : Al-Fath : 29,bahwa para shahabat benar – benar memusuhi orang kafir, dan mereka senantiasa berusaha untuk membenci mereka dengan kebencian yang sangat. Ibnu Katsir menerangkan ayat ini dengan keterangan yang tegas bahwa orang mu’min sangatlah keras terhadap orang kafir dan sangat benci terhadap mereka. Ini semua menunjukkan bahwa tidaklah ada persahabatan yang abadi , kekeluargaan yang sejahtera dan perkumpulan yang langgeng kecuali kalau semuanya dilakukan karena Allah, berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah.
Contoh lain dari penerapan al barra’ adalah barra’nya Rasulullah dan para shahabat terhadap Ka’ab Bin Malik hanya disebabkan karena tidak ikut perang tabuk. Padahal dia senantiasa shalat dibelakang Rasulullah di masjid yang didirikan dengan dasar takwa, tetapi Rasulullah dan para shahabatnya tidak memperhatikannya dan tidak berbicara dengannya sampai tidak memberi salam kepadanya. Begitu juga sikap barra’nya Ka’ab Bin Malik terhadap raja ghassan, meskipun saat itu dia dijauhi oleh kaum muslimin. Dimana raja ghassan menawarkan kedudukan yang tinggi dan harta yang melimpah, tapi Ka’ab tetap benci terhadapnya hingga dia menyobek surat tawaran dari raja ghassan. Dan disana masih banyak contoh – contoh yang lain yang menggambarkan kuatnya sikap barra’ terhadap ahli syirik. Tetapi kalau dibandingkan dengan masa sekarang, sungguh sangat jarang orang yang berani memusuhi orang – orang yang menentang Allah dan rasul-Nya. Padahal pada kasus Ka’ab Bin Malik dibandingkan dengan orang – orang yang menentang Allah sangatlah jauh. Maka sikap barra’ seorang mu’min terhadap mereka harus lebih besar .

DAFTAR PUSTAKA
1. Al –Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad Fashal Al-Wala’ wal Bara’ wa Ar-Raddu ‘ala Ahli Asy-Syirki wa al-Ilhad, Dr. syaikh Shalih bin Fauzan Bin Abdullah Al-Fauzan.
2. Al-Wala’ wall Bara’ fil Islam Min Mafahimi ‘Aqidatish Shalafi, Muhammad bin Sa’id bin Salim Al-Qahthani.
3. Taisirul Karim Ar-Rahman Fi tafsir Kalamil Mannan, Syaikh Abdurrahman bin Nasir As-Sa’di.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: