• Table of Contents

  • Join 5 other followers

  • Sponsor

    Free Domain Name .co.nr

    Hosting Gratis

    Web hosting

    WordLinx - Get Paid To Click

  • Statistik Blog

    • 11,073 hits

KHASIAT AL-WALA’


Kehidupan seseorang itu tidak akan lepas dari tauhidnya. Kapan tauhidnya benar, maka kehidupannya akan baik, begitu juga sebaliknya, kapan tauhidnya rusak, maka seluruh kegiatan dalam hidupnya akan rusak. Sejarah membuktikan akan pengaruh dari tauhid seseorang. Siapa yang mengenal Allah dengan baik dan meyakininya, bahwasanya Allah senantiasa mengawasinya kapanpun, bagaimanapun keadaan seseorang itu dan dalam kondisi apasaja, Allah senantiasa melihatnya, dan tidak ada satu kekuatanpun yang dapat menjadikan sesorang terlepas dari pengawasan Allah. Dengan tauhid, maka seseorang akan dapat menjadikan cintanya kepada Allah diatasa segala – galanya. Seseorang yang memiliki aqidah tauhid, maka dia wajib memiliki sikap al-wala dan al-barra, dimana dia harus cinta ahli tauhid dan benci ahli syirik.
Orang kalau sudah cinta terhadap sesuatu, maka ia akan menginginkan pertemuan dengannya. Dia akan berusaha sekuat tenaga untuk melakukan hal – hal yang dicintai olehnya. Dia akan meninggalkan hal – hal yang menimbulkan kemarahan padanya.. Apalagi orang yang kenal Allah, yang mengetahui bahwa Dialah Allah yang memberikan segala – galanya, baik yang abstrak maupun yang konkrit, maka dia akan selalu ingat Allah. Nabi Yusuf pernah diajak oleh istri raja untuk berbuat zina dengannya dan sungguh faktor – faktor yang mendukung perbuatan keji itu banyak sekali, dari tertutupnya dari pandangan manusia dengan ditutupnya seluruh pintu dan jendela istananya, cantiknya rupa istri raja dan adanya ancaman masuk penjara atau disiksa kalau tidak menuruti ajakan keji itu, tetapi karena Nabi Yusuf sangat cintanya terhadap Allah, maka dia pilih masuk penjara, hal ini seperti yang dijelaskan pada tafsir As-Sa’di, surat : Yusuf : 23-29.
Nabi Ibrahim ketika diperintah untuk menyembelih anaknya yaitu Nabi Isma’il, maka diapun melaksanakannya, padahal anaknya itu sangatlah ia sayangi. Hal ini disebabkan cintanya ia terhadap anaknya dibawah cintanya kepada Allah, Syaikh Ibnu Sa’di menjelaskan ayat 100-111 dari surat Ash-Shoffat, bahwa ketika Nabi Ibrahim mempunyai anak yaitu Isma’il, ia sungguh sangat mncintainya terlebih ketika sudah menginjak usia dewasa, dimana kesusahan dalam merawatnya diwaktu ia masih kecil sudah dilewatinya dan manfaat dari anaknya mulai datang, dengan adanya kemampuan pada diri anak untuk membantunya. Disaat seperti itu, Nabi Ibrahim mendapat ujian dari Allah untuk menyembelih anaknya yang tercinta. Nabi Ibrahimpun melaksanakannya sebagai kecintaannya kepada Rabbnya.( lihat tafsir ibnu Katsir, surat : Ash-Shoffat : 100-111 ). Ibnu Katsir menerangkan bahwa ketika Isma’il sudah berinjak dewasa, Nabi Ibrahim selalu pergi bersamanya, berjalan bersamanya, suatu ketika dia bermimpi, bahwa dia menyembelihnya. Dan mimpi para Nabi adalah wahyu, maka iapun melaksanakannya. Begitu juga ketika Nabi Ibrahim disuruh oleh Allah untuk meninggalkan istri dan anaknya di negeri yang sepi dari manusia dan gersang tanahnya dan tidak ada sumber air didalamnya, maka iapun menunaikan perintah Rabbnya karena cintanya terhadap Allah diatas segala – galanya, hal ini dijelaskan didalam tafsir Ibnu Sa’di dan tafsir Ibnu Katsir surat Ibrahim : 37.
Pada perang uhud, dimana waktu itu adalah saat yang paling kritis dalam kehidupan Rasulullah, didapati para shahabat Rasulullah begitu menggebunya membela Rasulullah, dan begitu tampaknya butir – butir kecintaan, kesetiaan, patriotisme dan keberanian mereka. Seperti yang digambarkan pada beberapa riwayat berikut ini :
1. Imam Muslim meriwayatkan dari Anas Bin Malik, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallama memencil bersama tujuh orang Anshar dan dua Muhajirin. Saat orang – orang Quraisy melancarkan serangan secara gencar, beliau bersabda : ” Siapapun yang melindungi kami, maka dia masuk surga atau dia akan menjadi pendampingku di surga .” Maka ada salah seorang Anshar yang maju bertempur melawaan sekian banyak orang – orang musyrik hingga dia terbunuh. Lalu disusul orang Anshar lainnya, sehingga mereka yang berjumlah tujuh orang terbunuh semuanya. Setelah itu beliau bersabda kepada dua rekannya dari Muhajirin ,”Mereka tidak adil terhadap kita.”
2. Didalam Ash-Shahihain disebutkan dari Abu Utsman, dia berkata ,” Pada saat peperangan itu tidak ada yang bersama Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallama, selain Thalhah bin Ubaidillah dan Sa’ad bin Abu Waqqash. Itu merupakan saat yang paling kritis dalam kehidupan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallama, sebaliknya merupakan kesempatan emas bagi orang – orang musyrik. Namun ternyata kesempatan ini tidak bisa mereka pergunakan dengan baik. Padahal sejak sebelumnya serangan mereka selalu terarah pada diri beliau dan mereka sangat berambisi untuk membunuh beliau.
3. Imam Al-Bukhary meriwayatkan dari Qais bin Abu Hazim, dia berkata : “Kulihat jari – jari tangan Thalhah terpotong, karena dia melindungi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallama pada perang uhud.”. Ibnu Hibban meriwayatkan didalam Shahihnya, dari Aisyah, dia berkata, ” Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, ” Pada waktu perang uhud semua orang hendak menghampiri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallama. Aku adalah orang yang pertama kali menghampiri beliau. Kulihat dihadapan beliau ada seseorang yang bertempur menjaga dan melindungi beliau. Aku berkata : Panahlah terus wahai Thalhah, ayah dan ibuku sebagai tebusanmu.” Aku tidak begitu bisa melihat sosok Abu Ubaidah, karena dia bertempur seperti seekor burung, hingga akhirnya aku bisa mendekatiny. Lalu kami bersama – sama mendekati Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallama, yang ternyata saat itu Thalhah sudah tersungkur ditanah di hadapan beliau. Beliau bersabda, ” Biarkan saja saudaramu, toh dia sudah berada di surga.” Saat itu beliau terkena lemparan anak panah pada bagian tulang pipinya hingga melepaskan dua keping lingkaran topi besinya yang ada di bagian itu. Aku mendekati beliau untuk mencopot dua keping rantai topi besi di kepala beliau. Abu Ubaidah berkata : ” Demi Allah aku memohon kepadamu wahai Abu Bakar, biarlah kutangani sendiri. Abu Bakar menuturkan berikutnya, Abu Ubaidah menggigit kepingan rantai topi besi dengan giginya karena khawatir akan menyakiti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallama, hingga gigi seri Abu Ubaidah menjadi goyah. Kemudian aku hendak mencopot potongan yang satunya lagi. Namun Abu Ubaidah berkata : “Demi Allah aku mohon kepadamu wahai Abu Bakar , biarlah kutangani sendiri!.”Maka Abu Ubaidah berbuat seperti yang pertama hingga dapat melepaskan potongan yang kedua. Akibatnya gigi serinya yang lain ikut goyah. Lalu kami menghampiri Thalhah untuk mengurusinya. Ternyata dia mendapat luka lebih dari sepuluh luka.
4. Mush’ab Bin Umair bertempur dengan gencar, melindungi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallama dari sebuan Ibnu Qami’ah dan rekan – rekannya. Sementara bendera perang ada di tangan kanannya. Mereka dapat menyabetkan pedang ke tangannya hingga putus. Lalu dia membawa bendera itu di tangan kirinya. Dia terus bertahan menghadapi serangan orang – orang kafir hingga mereka dapat menyabet tangan kirinya hingga putus. Lalu bendera itu ditelungkupkan di dada dan lehernya hingga dia terbunuh. Yang membunuhnya adalah Ibnu Qami’ah. Karena dia mengira Mush’ab adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallama, maka dia langsung berbalik ke arah orang – orang musyrik setelah dapat membunuhnya, lalu berteriak, ” Muhammad telah terbunuh.
Gambaran diatas menunjukkan betapa hebatnya pengaruh al-wala dalam kehidupan seseorang, hingga mampu mempertaruhkan jiwanya sebagai bentuk loyalnya ( walanya ) terhadap Rasulullah. Demikian juga seorang yang dalam hatinya tauhid, maka dia harus punya sikap wala, loyal terhadap ahli tauhid seperti halnya para shahabat, mereka loyal terhadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallama.

DAFTAR PUSTAKA
1. Shirah Nabawiyah, Syaikh Shafiyyur –Rahman Al-Mubakfury.
2. Shirah Nabawiyah, Ibnu Hisyam.
3. Zaadul – Ma’ad, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah.
4. Al –Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad Fashal Al-Wala’ wal Bara’ wa Ar-Raddu ‘ala Ahli Asy-Syirki wa al-Ilhad, Dr. syaikh Shalih bin Fauzan Bin Abdullah Al-Fauzan.
5. Taisirul Karim Ar-Rahman Fi tafsir Kalamil Mannan, Syaikh Abdurrahman bin Nasir As-Sa’di.
6. Tafsirul Al-Qur’anul ‘Adhim, Al-Imam Abul-Fida Al-Khafidz Ibnu Katsir Ad-Damasyqa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: